Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /4/

Tahta untuk Republik Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi, Andi Jemma, Andi Djemma, Datu Luwu, Kedatuan Luwu, Kerajaan Luwu, Istana Luwu, Raja Luwu, La Galigo, I La Galigo, Kitab La Galigo, Kitab I La Galigo, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /1/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /2/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /3/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /4/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /5/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /6/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /7/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /8/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /9/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /10/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /11/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /12/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /13/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /14/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /15/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /16/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /17/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /18/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /19/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /20/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /21/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /22/, Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /23/

/4/


negeri Matahari Terbit menjejakkan kaki 1942

serupa angin sepoi, menjelma badai

kota Palopo diamuk Samurai

darah tumpah di jalan-jalan

kengerian makin mencekam

hingga ke jiwa terdalam rakyat Luwu[1]


tojabi, lelaki tua renta

berkali-kali terkapar di jalan

dipapar kerasnya kayu hitam

tubuhnya limbung membaui tanah

10 hari tak pernah  makan

tak ada yang berani

orang-orang diterkam ngeri

lelaki itu dirubung duka

hingga jasadnya mengering

di balik jeruji  besi berkarat[2]


tapi aku tak pernah gentar

hidupku adalah pengabdianku pada rakyat

aku berdiri tegap

menyusuri jalan terjal, gelap mencekam

mengokohkan jiwa

membangkitkan semangat rakyat

yang telah porak-poranda

memunguti satu persatu serpihan asa

kuramu dan kubangun kembali cita-cita

kukobarkan suluh yang hampir padam

tak ada kata berhenti berharap

untuk sebuah kemerdekaan


---------------------

[1] Kekejaman yang dilakukan Jepang begitu meresahkan rakyat Luwu. Di mana-mana terlihat kekerasan dan kekejaman Jepang. Mereka menendang, memukul, menempeleng dan memperkosa wanita-wanita dengan tidak memandang bulu. Mereka juga memaksa rakyat Luwu untuk menyembah bendera dan sujud ke arah matahari terbit dengan maksud menyembah “Tenno Heiko”, Mikado Jepang setiap pagi. Tindakan ini tentunya sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang dianut oleh sebagian besar rakyat Luwu. Hal itu menumbuhkan kebencian dan dendam yang sangat mendalam.

[2] Keberadaan Harada yang membunuh Tojabi yang dikenal sebagai tokoh perlawanan pada masa penjajahan Belanda dengan cara yang sadis, menyiksa dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah serta romusha (sistem kerja paksa) membuat rakyat menderita. Jeritan kesakitan dan kematian terjadi setiap hari.


***

IDWAR ANWAR yang dikenal sebagai penulis, sastrawan, budayawan dan juga politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, lahir di Kota Palopo, ibu kota terakhir Kedatuan Luwu.

Lelaki yang akrab disapa Edo ini menyelesaikan pendidikannya di SD Negeri 77 Palopo, SMP Negeri 3 Palopo dan SMA Negeri 2 Palopo. Idwar kemudian hijrah ke Makassar untuk kuliah di Universitas Hasanuddin.

Sejak mahasiswa, Idwar aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra kampus antara lain; sebagai Ketua Himab Unhas, Pengurus Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas, Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD), dan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas.

Idwar juga pernah menjadi Presidium Pusat Aktivis 98 (PENA 98), Pengurus KNPI Sulsel (2010-2013), Sekretaris Panitia Seminar Internasional La Galigo di Barru (2002) dan Masamba (2003), menjadi Tim Perumus Temu Budaya Nusantara Dialog Budaya Nusantara (2002), Mufakat Budaya Indonesia (2018), bahkan sempat menjadi Dosen Luar Biasa di almamaternya. Dan kini sebagai Pembina Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) Sulsel.

Di dunia politik, Idwar pernah menjadi Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Palopo, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Palopo (2010-2015) dan Anggota BP Pemilu DPD PDI Perjuang-an Sulsel. Saat ini ia aktif sebagai Sekretaris DPD Banteng Muda Indonesia Sulsel (2017-2020) dan anggota Komite Kehormatan DPD PDI Perjuangan Sulsel (2015-2020).

Selain aktif berorganisasi, sejak mahasiswa sampai saat ini Idwar aktif menulis dan ratusan tulisannya dimuat di berbagai media, berupa artikel, resensi buku, esai, puisi dan cerpen. Naluri menulis juga tersalurkan di dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan dan redaktur di beberapa media.

Aktif dalam dunia literasi, Idwar mendirikan Rumah Baca Arung, menjadi pemateri dalam berbagai acara bedah buku, pelatihan jurnalistik dan penulisan kreatif, serta menjadi pengurus lembaga pengembangan minat baca. Diantaranya, menjadi Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Palopo (2011-2014), Ketua Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Palopo, Pengurus GPMB Provinsi Sulsel, dan pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Sulsel.

Dalam dunia kesenian dan kebudayaan, Idwar kerap membacakan karya-karyanya di berbagai tepat. Aktif sebagai Ketua Dewan Kesenian Palopo (2005-2015) dan di LAPAKSS - Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Indonesia Sulsel (2017-2021).

Beberapa bukunya yang telah terbit antara lain: Novel Merah di Langit Istana Luwu; La Galigo: Turunnya Manusia Pertama (Jilid 1); La Galigo: Mutiara Tompoq Tikkaq (jilid 2) dan La Galigo: Lahirnya Kembar Emas (jilid 3). Kumpulan Cerpen Mata Ibu; Kota Tuhan; dan Ibu, Temani Aku Menyulam Surga. Kumpulan Sajak Zikir dan Kado Cinta. Adapula Kumpulan Cerita Rakyat Tana Luwu (Jilid 1). Buku lainnya, Perang Kota: Perlawanan Rakyat Luwu 23 Januari 1946, Jejak-Jejak Suara Rakyat Menelusuri Sejarah DPRD Kota Palopo; Ensiklopedi Sejarah Luwu (2005); Ensiklopedi Kebudayaan Luwu (2006); Palopo dalam Spektrum Waktu, dan Buku-buku Pelajaran Mulok Sejarah dan Kebudayaan Luwu  untuk SD, SMP dan SMA.