Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /12/
/12/
meninggalkan benteng Batu Pute
di bawah todongan senjata; menjadi tawanan
bukanlah tembok-tembok kokoh
untuk menghentikan pelawanan rakyat Luwu
bukanlah badai
yang mampu menghempas
memporak-porandakan
semangat yang terus bergelora
dalam jiwa-jiwa para pejuang
jiwa-jiwa yang penat
bukanlah penanda letihnya perjuangan
tapi serupa tetas air
menghujam karang berpuluh tahun
akan mampu menhancurkan batu
jasad-jasad terbenam tanpa nisan
menjadi penanda bagi perkabungan
tapi bukan penanda
bagi terkuburnya semangat bergelora
atau padamnya sulur yang berkobar-kobar
tanah ini, negeri merdeka
tanah yang ditetesi darah Dewata di masa purba
tanah yang anak-anaknya
mampu membaca peta-peta usang
telah diajari menelisik air mata
berguru memaknai luka
dan menghirup aroma darah
tanah ini, negeri Luwu
tanah yang anak-anaknya
tanpa henti memunguti serpihan duka
mengais-ngais impian
meletakkannya ke dalam cawan
lalu meramu mantra-mantra harapan
tentang masa depan gemilang
di bawah todongan senjata,
dan wajah-wajah serupa batu
kami dipaksan berjalan
dalam balutan letih dan luka
dalam cengkraman caci maki dan bentakan
harta-harta dirampas [1]
- Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /20/
- Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /19/
- Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /23/
- Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /22/
- Tahta untuk Republik (Potret Perjuangan Andi Jemma dalam Puisi)... /21/
harga diri kami dihempaskan di jurang terdalam
lalu, aku membayang kengerian lain
yang bisa saja datang tiba-tiba
kengerian yang tak pernah kubayangkan
atau tak pernah terlintas di benakku
namun harapanku sia-sia
ketakutanku mewujud
kekejaman menari-nari riang
tawanya menggelegar; aroma busuk menyeruak
telinga Z. Usman dipotong
lalu dipaksa untuk menelannya [2]
kengerian menerkam
bayonet yang dihunus
menghujam tubuh-tubuh tawanan
suara tawa dan jerik kesakitan
bercampur di udara malam yang dingin
namun terasa panas
seringai para serdadu
serasa ingin memangsa
satu persatu tawanan yang bersimbah darah
aku mendengar semuanya
serasa membumbung jiwaku ke angkasa
kesedihan menggedor-gedor kesadaranku
hanya doa dan permintaan menegakkan siri’
yang mengalir dari mulutku; bergetar
[1] Seorang penulis asing sempat menulis mengenai peristiwa tertawannya Datu di Batu Pute tersebut: (Juni, 2 1946) When Datoe Loewoe was captured by the KNIL under capatin Venick, a liuetnant and a Surinemeso corpral, the belongings of women of nobility and common people were looted a.o. Boegis-sarongs 500 pieces, Samarinda-sarongs 1000 pieces, Sarong of thread 500 pieces. Five cases of adat-clothes were set on fire, one case full of silver coin to a value of 2000,- guiders, belonging to Opoe Gawe (District head of Boea) and about 100 crisses with goldsheaths were taken away. (Ketika Datu Luwu ditawan oleh tentara KNIL di bawah pimpinan Kapten Venick dan seorang kopral bangsa Suriname, maka harta dari wanita-wanita bangsawan dan rakyat umum dirampok, diantaranya; Sarung Bugis (maksudnya sarung sutera) 500 lembar, Sarung Samarinda 1000 lembar, Sarung benang 500 lembar. Lima peti pakaian adat telah dibakar habis, satu peti penuh dengan uang perak seharga Rp 2.000, kepunyaan Opu Gawe (Kepala Distrik Bua) dan kira-kira 100 keris yang berlapis emas telah dibawa pergi). Op.cit, Ensiklopedi Sejarah Luwu, hlmn, 90.
[2] Perlakuan tentara Belanda yang datang dari Palopo di bawah pimpinan Letnan Tupang ditulis oleh seorang asing kurang lebih sebagai berikut: June, 3 1946) Z. Usman ears were out off and Usman was forced to swallow them and while he was munching his own ears the letter were pushed down his throat with the bayonet until ke swallowed them (he was forced to do so by KNIL soldiers headed by lieutenant Tupang.
(Telinga Z. Usman dipotong dan dipaksa menelannya dan sementara ia mengunyah kupingnya, yang lain menekan kerongkongannya dengan bayonet, sampai kupingnya itu tertelan (ia dipaksa demikian oleh KNIL yang dipimpin oleh Letnan Tupang). Ibid. Ensiklopedi Sejarah Luwu, hlmn, 196.
***
IDWAR ANWAR yang dikenal sebagai penulis, sastrawan, budayawan dan juga politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, lahir di Kota Palopo, ibu kota terakhir Kedatuan Luwu.
Lelaki yang akrab disapa Edo ini menyelesaikan pendidikannya di SD Negeri 77 Palopo, SMP Negeri 3 Palopo dan SMA Negeri 2 Palopo. Idwar kemudian hijrah ke Makassar untuk kuliah di Universitas Hasanuddin.
Sejak mahasiswa, Idwar aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra kampus antara lain; sebagai Ketua Himab Unhas, Pengurus Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas, Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD), dan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas.
Idwar juga pernah menjadi Presidium Pusat Aktivis 98 (PENA 98), Pengurus KNPI Sulsel (2010-2013), Sekretaris Panitia Seminar Internasional La Galigo di Barru (2002) dan Masamba (2003), menjadi Tim Perumus Temu Budaya Nusantara Dialog Budaya Nusantara (2002), Mufakat Budaya Indonesia (2018), bahkan sempat menjadi Dosen Luar Biasa di almamaternya. Dan kini sebagai Pembina Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) Sulsel.
Di dunia politik, Idwar pernah menjadi Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Palopo, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Palopo (2010-2015) dan Anggota BP Pemilu DPD PDI Perjuang-an Sulsel. Saat ini ia aktif sebagai Sekretaris DPD Banteng Muda Indonesia Sulsel (2017-2020) dan anggota Komite Kehormatan DPD PDI Perjuangan Sulsel (2015-2020).
Selain aktif berorganisasi, sejak mahasiswa sampai saat ini Idwar aktif menulis dan ratusan tulisannya dimuat di berbagai media, berupa artikel, resensi buku, esai, puisi dan cerpen. Naluri menulis juga tersalurkan di dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan dan redaktur di beberapa media.
Aktif dalam dunia literasi, Idwar mendirikan Rumah Baca Arung, menjadi pemateri dalam berbagai acara bedah buku, pelatihan jurnalistik dan penulisan kreatif, serta menjadi pengurus lembaga pengembangan minat baca. Diantaranya, menjadi Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Palopo (2011-2014), Ketua Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Palopo, Pengurus GPMB Provinsi Sulsel, dan pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Sulsel.
Dalam dunia kesenian dan kebudayaan, Idwar kerap membacakan karya-karyanya di berbagai tepat. Aktif sebagai Ketua Dewan Kesenian Palopo (2005-2015) dan di LAPAKSS - Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Indonesia Sulsel (2017-2021).
Beberapa bukunya yang telah terbit antara lain: Novel Merah di Langit Istana Luwu; La Galigo: Turunnya Manusia Pertama (Jilid 1); La Galigo: Mutiara Tompoq Tikkaq (jilid 2) dan La Galigo: Lahirnya Kembar Emas (jilid 3). Kumpulan Cerpen Mata Ibu; Kota Tuhan; dan Ibu, Temani Aku Menyulam Surga. Kumpulan Sajak Zikir dan Kado Cinta. Adapula Kumpulan Cerita Rakyat Tana Luwu (Jilid 1). Buku lainnya, Perang Kota: Perlawanan Rakyat Luwu 23 Januari 1946, Jejak-Jejak Suara Rakyat Menelusuri Sejarah DPRD Kota Palopo; Ensiklopedi Sejarah Luwu (2005); Ensiklopedi Kebudayaan Luwu (2006); Palopo dalam Spektrum Waktu, dan Buku-buku Pelajaran Mulok Sejarah dan Kebudayaan Luwu untuk SD, SMP dan SMA.