Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (17) Bab 1

 

 Demikian pula dengan Datu Palingéq. Ia menyerahkan cincin kilat yang melilit di tangan kirinya. Dengan air mata yang kian terburai, ia berkata kepada Batara Guru. Kalimatnya terputus-putus oleh isak yang menyeringai:

“Tenangkan hatimu, anakku La Togeq Langiq.... Turunlah ke bumi dengan hati yang lapang. Bawalah taletting mperreq, siri atakka, telleq araso, wempong mani, bertih kilat orang Léténg Nriuq, dan beras berwarna dari Sawang Kuttu ini. Jika nanti engkau dalam perjalanan turun ke bumi, lemparkanlah taletting mperreq, agar menjadi tanah dan meluaskannya, mendirikan kampung, mengonggokkan gunung, menebar pebukitan, menghamparkan laut, menyematkan danau, menggurat binanga, melekukkan alur sungai dan menjuntaikan serasah dari balik-balik lembah, gunung dan bukit. Lemparkan pula siri atakka di sebelah kananmu dan telleq araso di sebelah kirimu. Itulah yang nantinya akan menjadi hutan belantara. Dan jika engkau sudah mendekat ke bumi, lemparkanlah wempong mani. Itulah yang akan menjadi ular dan margasatwa beraneka jenis. Dan jangan lupa untuk menaburkan bertih kilat Léténg Nriuq dan beras berwarna dari Sawang Kuttu. Sebab itulah yang akan menjadi burung-burung yang beraneka macam.”

To Palanroé sejenak tertegun. Ucapan istrinya yang tersendat-sendat oleh tangis membuatnya sangat rawan. Namun perpisahan itu memang harus terjadi. Ini adalah perjalanan yang harus dilalui oleh Batara Guru.

“Tenangkan hatimu anakku, Batara Guru. Terimalah semua pemberian ibundamu, Mutia Unruq. Semoga kelak engkau dapat hidup tenteram di dunia. Jika nanti engkau menjelma ke dunia, akan diturunkan pula angin, badai diadukkan, guntur akan bersahut-sahutan, kilat petir saling menyabung, menggelegarkan halilintar, digiring pula gumpalan awan berarak, dilayangkan kabut tebal, bintang-bintang ditebarkan dan disejajarkan penuh makna. Air hujan akan menyebarkan kehidupan. Akan saling dijauhkan pula benda-benda di kolong langit, dan gelap dihamparkan untuk menyesatkan orang-orang. Semuanya berada dalam perhitungan….”

Datu Patotoq sejenak terdiam. Ditariknya nafas dalam-dalam sembari meramu kata-kata yang akan dikeluarkannya. Ditatapnya Batara Guru yang tertunduk.

“Anakku... berbagai nikmat dan kesengsaraan itu adalah ketentuan dari perjalanan hidup di dunia. Dan apapun yang engkau hadapi, menyembahkan engkau ke Rualletté, menadahkan tangan ke Pérétiwi. Janganlah sekali-kali engkau mengatakan bahwa dewata jua orang tuaku. Sebab engkau akan hancur anakku disambar petir yang menyala menebas apa saja yang ada di bumi. Akan hilanglah jiwa datumu. Di dunia, segala kepribadianmu akan dimatangkan. Engkau bisa jatuh dan hina seperti binatang yang turun bersamamu. Dan engkau akan sempurna bahkan melebihi kesempurnaan dewata sekalipun. Ingat... engkau adalah manusia, dan aku adalah dewa.”

Mendengar ucapan yang ayahandanya, bertambah sedihlah hati Batara Guru. Air matanya kembali mengalir membentuk alur kepedihan di permukaan wajahnya. Bayangan perpisahan semakin garang menggedor-gedor batinnya. Wajahnya yang biasa teduh, telah disaput awan hitam yang berarak.

“Sekarang bersiap-siaplah. Akan kuturunkan engkau bersama beberapa bangsawan dan anak batara. Tenangkan jiwamu. Kosongkan pikiranmu,” pinta To Palanroé dengan suara berat.

To Palanroé menunduk perlahan, meraih puan dari petir, membukanya lalu menyirih. Tatapannya lurus menohok ke wajah putra mahkotanya. Begitu lembut kedua kelopak matanya mendekap. Suasana seketika hening. Angin tiba-tiba saja mati. To Palanroé dengan teramat halus mulai memadamkan jiwa Batara Guru, melayangkan sukma anak sulung kesayangannya. Hanya dalam sekejap, tubuh Batara Guru perlahan tersungkur.

To Palanroé lantas membaringkan tubuh anaknya di bambu betung. Diselimutinya  dengan kain berhiaskan bulan, dililiti dengan tirai dari Wawo Unruq, digenggamkannya cemeti warisan, disimpankan siri atakka di sebelah kanannya, dan telleq araso di sebelah kirinya. Diletakkan pula taletting mperreq, wempong mani, bertih kilat, dan beras berwarna dari Sawang Kuttu.