Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (18) Bab 1


 Bambu betung tempat Batara Guru terbaring, kemudian diikat oleh To Palanroé dengan tali emas. Atas permintaan To Palanroé, To Tenrioddang segera memerintahkan untuk meletakkan ayunan keemasan yang dipersiapkan turun ke bumi. To Palanroé sendiri yang menaikkan bambu betung tempat berbaring anak kesayangannya di atas ayunan emas.

Usai menaikkan bambu betung ke atas ayunan emas, To Palanroé segera memerintahkan Sangka Batara untuk memanggil beberapa hamba dewa, To Sunra, Peddengngengngé, Pérésola, Asu Panting, Setan, I La Sualang, burung hantu, burung kokociq, petir, badai, Sangiang Mpajung, tanra tellué, épangngé, manuqé, worong-mporong dan teppitué untuk segera datang dan menemani kepergian ayunan emas.

Tak akan lewat makanan di tenggorokannya mereka yang tidak mau datang dan mengiringi keturunanku turun ke bumi,” tegas To Palanroé.

Belum sepenanak nasi, berangkatlah Sangka Batara. Dia sendiri yang memukul gendang petir pusaka kerajaan di Rualletté. Sekali saja dipukul saat itu juga serentak semua datang di dalam pagar anak dewata. Mereka pun duduk menunggu di bawah pohon asam tanra tellu.

Setelah semuanya datang, To Palanroé, kembali memerintahkan kepada Sangka Batara agar pintu langit segera dibuka. Hanya dalam sekejap palang guntur penutup pintu agung batara perlahan dibuka. Setelah pintu agung Boting Langiq benar-benar terbuka, satu demi satu ketujuh lapis pintu batara lainnya pun disingkapkan. Semua hamba dewa yang bermacam-macam diturunkan. To Létté Ileq lalu menurunkan gelap, Sangiang Mpajung menghambur badai, Ruma Makompong menyabung halilintar, Pulakalié menebar cahaya kilat, dan bersama To Alebboreng menyulut api dewata.

Saat itulah, ayunan kemilau yang dimuati bambu betung tempat berbaringnya Batara Guru diturunkan perlahan, diusung oleh guntur dan diiringi angin kencang. Hampir bersamaan, kilat bersabung, guntur menggelegar, halilintar saling bersahutan, kilat menyala-nyala seiring dengan badai yang menerjang garang.

Setelah ayunan emas diturunkan, beriringan pula berangkat tanra tellué, épangngé, manuqé, worong-mporong, tappitué, To Sunraé, Peddengngengngé, dan Pérésola. Para hamba dewata yang beraneka macamnya, mengelu-elukan tuan mereka. To Alebboreng dan Pulakalié juga turun semuanya.

Baru setengah langit turunnya ayunan tali manurung, Batara Guru pun tersadar. Ia lalu berpaling dan menyingkap baju biru langitnya. Saat itu Manurungngé[1] menengadah ke Boting Langiq. Dilihatnya tempat bertahta kedua orang tuanya itu samar-samar. Demikian pula tatkala ia menunduk ke Pérétiwi.

Sungguh pedih hati Batara Guru. Hampir saja berhenti tarikan nafasnya jika mengingat-ingat keadaan di Boting Langiq. Bayangan orang tua dan saudara-saudaranya kembali melintas, bermain-main dalam benaknya. Rasa rindu itu kini kembali menggedor-gedor bahkan semakin garang. 

“Rupanya aku akan tenggelam dan kehilangan pembelai semangat kahyanganku di Rualletté. Hanya dalam angan saja tempat tinggalku yang tak bertara di Boting Langiq. Entahlah, apakah nanti jika aku tenggelam dan padam nyala jiwaku, saudara-saudaraku akan menyaksikannya,” ucap Batara Guru membatin.



[1] Sebutan lain untuk Batara Guru saat berada di dunia, di samping panggilan lainnya: Datu Manurung, La Togeq Langiq, Wira Talallo To Boting Langiq atau Yang Menetas di Lappa Tellang. Manusia yang diturunkan dari Boting Langiq (Dunia Atas) oleh Patotoqé (Sang Penentu Nasib). Segala sesuatu yang turun dari Boting Langiq lalu menjelma ke bumi disebut manurung. To Manurung untuk menyebutkan manusia yang turun dari Boting Langiq. Jadi yang dimaksud bukan hanya Batara Guru, bisa saja pengiringnya. Sedangkan Tompoq dimaksudkan untuk menyebut segala sesuatu yang berasal dari Todddang Toja atau Pérétiwi (Dunia Bawah) yang muncul ke bumi. Sebutan ini sering digunakan untuk menyebut Wé Nyiliq Timoq “To Tompoq”. To Tompoq sebutan untuk manusia. Meski tidak selamanya To Manurung dan To Tompoq dimaksudkan adalah Batara Guru dan Wé Nyiliq Timoq.