La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (19) Bab 1
Namun dengan cepat Manurungngé tersadar. Dengan lembut, meski gejolak hatinya kian mencabik-cabik, ia menghamburkan taletting mperreq, melemparkan siri atakka di sebelah kanannya, dan telleq araso di sebelah kirinya. Bertambah dekat ke bumi, Batara Guru melontarkan wempong mani yang berasal dari Wawo Unruq. Ditebarkannya pula lagi bertih kilat dari Léténg Nriuq, dan beras berwarna dari Limpo Bonga. Maka ramailah bunyi aneka ragam margasatwa yang saling memperebutkan tempat bertengger di dalam hutan.
Ketika ayunan petir yang memuat bambu betung tempat berbaring Batara Guru kian mendekati permukaan bumi, terjadi keanehan. Ayunan itu tak mau merapat. Saat itulah guntur berbunyi tujuh kali, kilat petir kembali sabung-menyabung membelah langit. Boting Langiq seakan hendak runtuh, dan Pérétiwi seperti akan hancur. Namun akhirnya, sampai juga ayunan petir Manurungngé di dunia. Bambu betung tersebut perlahan diturunkan. Di sekelilingnya pohon-pohon bersujud. Angin yang ditebar seketika berhenti bertiup. Gunung-gunung dan lembah tafakur bersama semua margasatwa. Keheningan dengan cepat merambati bumi.
Hanya sesaat, ayunan petir yang mengantar bambu betung tersebut bergerak dan meluncur kembali ke Boting Langiq. Kembali pula semua anak dewata yang mengiringinya.
***
Di istana Sao Kuta Pareppaqé, tatkala para pengiring Batara Guru turun ke bumi telah kembali, menangislah semua anak Patotoqé. Terlebih begitu melihat ayunan petir yang mengantar Batara Guru telah kosong. Para bangsawan dari Abang yang dijadikan biti perwara di Boting Langiq pun tiada dapat menahan air mata mereka yang bercucuran.
Suasana haru dengan cepat menjalari setiap relung hati mereka yang ada di istana Sao Kuta Pareppaqé. Hampir bersamaan menangis pula semua saudara sesusuan, inang pengasuh yang ratusan jumlahnya, serta juak nan beribu banyaknya. Tak dapat menahan kepiluan teman sepermainan Batara Guru, meratap sembari mengempaskan diri pula Wé Saung Nriuq, Wé Lélé Ellung, Apung Talaga, mengenang Batara Guru. Hampir hilang batas kesenangan hatinya Welong Mpabareq mengenang anak dewata kesayangannya. Ia bahkan ingin ikut diturunkan di dunia supaya dapat sehidup semati dengan anak dewata yang sekian lama diasuhnya.
Melihat suasana tersebut, To Palanroé hanya terdiam. Hampir hilang batas ketenangan jiwanya mengenang putra mahkotanya. Kesedihan yang menjejali tak dapat ia bendung. Demikian pula dengan Datu Palingéq. Perempuan yang telah melahirkan Batara Guru itu hanya duduk sembari mempertautkan jemarinya berusaha menahan air mata kepiluan yang keluar dari kedua matanya.
Cukup lama larut dalam kesedihan, Sinauq Toja dan Guru ri Selleq mulai gelisah hendak turun kembali ke Toddang Toja. Dengan terbata-bata keduanya terpaksa minta diri. Meski berat, namun To Palanroé dan Datu Palingéq akhirnya memberikan izin. Tak berapa lama anak-anak To Palanroé, saudara-saudara, sepupu sekali dan kemanakannya yang lain pun berpamitan. Maka sunyilah istana Sao Kuta Pareppaqé. Tinggallah To Palanroé dan Datu Palingéq termenung mengenang sibiran tulangnya.
Di luar istana, angin terus menghempas, lelah. Saling berkejaran menggiring awan dan menyemaikannya. Lalu mati. Petir, halilintar menggelayut lunglai. Tak ada gairah. Tak ada keriangan. Boting Langiq ditelungkup pilu.