Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (2) Bab 8

 

 Tidak berapa lama, merasa janin di perutnya kian menggeliat, Wé Nyiliq Timoq bangkit dan ber-pegangan pada lailaiseng, bertumpu pada papan, dan bergantung pada lanrang potto. Pinggangnya menggeliat-geliat, dan suaranya tertahan menahan rasa sakit. Sekuat tenaga ia terus berusaha mengejan, bayi yang ada dalam perutnya juga tak mau keluar.

Menyaksikan peristiwa itu semua dukun kerajaan sedikit bingung. Meski telah bergantian semua Puang Matoa menggoyangkan tongkat keemasan, tapi belum juga bergetar perut Wé Nyiliq Timoq.

Tak tahan melihat penderitaan permaisurinya, Manurungngé lalu bangkit dan pindah duduk di dekat isterinya. Dipegangnya lengan perempuan itu sambil berkata:

“Tenangkan hatimu, wahai adinda Wé Timoq, Mutia Lamming dari Toddang Toja. Sabarlah menerima takdir dewata,” bujuk La Togeq Langiq seraya mengusap-usap perut istrinya. “Lahirlah duhai darah bangsawan, keluarlah I La Tiuleng, agar engkau dinauingi payung di Alé Luwu, menjadi penguasa tunggal di Watang Mpareq, dan memerin-tah sekolong langit, sepetala bumi.”

Meski begitu sedikitpun tak ada tanda-tanda bayi tersebut untuk keluar, bahkan kembali lagi jauh ke dalam seolah ingin selalu bersama dengan ibunya. Janin itu hanya menggeliat menyisakan sakit yang teramat sangat di perut Wé Nyiliq Timoq. Teramat sedih rasa hati Batara Guru menyaksikan kenyataan di depan matanya.

Tak mampu menahan kesedihan melihat keadaan Wé Nyiliq Timoq menahan penderitaan, berkatalah Wé Saung Nriuq, yang diiyakan Wé Lélé Ellung, Apung Talaga, Apung ri Toja, Tenritalunruq dan Wé Unga Waru:

“Keluarlah engkau duhai darah bangsawan yang terbaring dalam rahim perempuan agung. Semoga engkau hidup dan tak berpulang pula ibumu. Di alam ini engkau dapat tertidur dalam dekapan orang tua dan orang-orang yang menantikanmu. Semoga dewata menerima kerbau camara bertanduk emas yang hidung dicocok gelang emas. Tak peduli siang ataupun malam, kupersembahkan nazar kerbau sebagai pembela jiwa kehidupan Puang Wé Timoq.”

Namun tak sedikit pun tanda-tanda akan janin dalam kandungan Wé Nyiliq Timoq. Sepertinya seruan tersebut tak juga terdengar oleh To Palanroé.

Meski demikian, Wé Nyiliq Timoq terus berusaha. Ia kembali bangkit, berpegangan pada lailaiseng, bergantung pada lanrang potto, gelang emas, dan bertumpu pada papan kilat keemasan. Berkali-kali ia berusaha mengejan, sambil bersandar pada inang pengasuh. Akan tetapi usahanya tetap saja sia-sia.

Merasa usahanya tak juga berhasil, sedang perih kian tak mampu ia tahan, Wé Nyiliq Timoq kemu-dian berbaring di pangkuan Apung ri Toja, seraya meringis menahan sakit. Kedua betis Wé Nyiliq Timoq dipangku pula oleh ibu susu sesamanya bangsawan. Kedua lengannya ditumpukan pada inang pengasuhnya.

Tak kuat melihat air mata yang mengalir di pipi Wé Nyiliq Timoq, Apung Talaga mengusapnya perlahan. Sembari menangis Apung Talaga berkata. Kalimatnya tersendat-sendat:

“Kuur semangatmu, adinda. Semoga tetaplah jiwa kekahyanganmu. Kuatkan jiwamu untuk terus hidup dan melahirkan dengan selamat. Sebab tak terukur air susumu, meski digantikan dengan ribuan inang pengasuh.”

Kesedihan terus bergulir. Para ibu susunya juga tak mampu menahan diri melihat anak yang dihidupinya sejak bayi mengalami penderitaan.

“Tenangkanlah hatimu, Puang. Berusahalah terus, agar tidak padam jiwamu. Janganlah engkau samakan ketika engkau masih di Pérétiwi, sebab semua yang tinggal di Kawaq ini akan mati,” ucap salah satu di antara mereka.

Hanya air mata yang mampu menjawab perkataan yang ditujukan kepadanya. Wé Datu Tompoq, tak sedikitpun mampu berkata-kata.