La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (3) Bab 8
Siang malam terus berlalu. Selama itu pula bergantian para dukun datang membantu kelahiran bayi tersebut. Akan tetapi sudah tujuh malam tujuh hari, Wé Nyiliq Timoq masih saja dicekam sakit, sedang anak yang dikandungnya tak juga mau keluar.
Seperti hilang akal dan kesabaran semua dukun menyaksikan kejadian yang menimpa Wé Nyiliq Timoq. Karenanya Manurungngé segera memerin-tahkan kepada para penghulu, agar memanggil semua penduduk di daerah taklukan, supaya bersegera datang di Alé Luwu dengan membawa alat perangnya yang beraneka ragam. Mereka akan saling menumpahkan darah sebagai persembahan untuk mempercepat kelahiran anaknya.
Dalam waktu sekejap para jenang dan penghulu telah melakukan perintah Batara Guru. Berkumpul orang-orang yang diundang saling berdesakan me-menuhi halaman istana manurung. Sudah datang pula semua orang Luwu dan Ware yang memakai topi kemilau berkumpul di depan istana. Tiang panji-panji yang beraneka ragam bagaikan hutan yang tumbuh di depan istana. Pakaian kalapenra yang muncul bersama dengan Sinauq Toja, ditu-runkan pula untuk dipakai oleh penduduk Luwu dan Ware. Terdapat pula barisan pembawa tapideq yang diramaikan oleh orang berhiaskan bulu béppaja.
Para penduduk yang bersiap-siap untuk berperang itu saling berhadap-hadapan. Laksana halilintar teriakan mereka menggema ke angkasa. Seperti hendak luluh lantak kampung-kampung diamuk gemuruh teriakan penuh semangat. Pakaian para kesatria yang sama-sama memakai topi keemasan dengan rambut panjang berurai berhiaskan bulu béppaja, bak bara menyala dipandang mata.
Dengan satu hitungan, dimulailah peperangan. Di bagian selatan istana, para kesatria, bercampur dengan rakyat, saling menyerang. Lima ratus kepala telah terpancung di selatan, ratusan pula yang terkapar di utara istana. Begitu pula di belakang dan di depan istana Sao Denra. Tak terhitung lagi mereka yang luka, yang tak sadarkan diri akibat dimabuk aroma dan warna darah yang bercereran. Di bawah asam, darah mengalir bagai banjir. Mereka yang kena sabetan senjata, yang ditombak, dan yang dimabuk darah, bergelimpangan di sekitar istana. Suasana mencekam.
Lima belas hari sudah lamanya pertarungan itu berlangsung. Dan darah tak juga henti-hentinya mengalir, hingga....
Tatkala matahari benar-benar berdiri di batok kepala, tidak di barat dan tidak di timur bayang-bayang, tiba-tiba Alé Lino dilanda kegelapan yang mencekam. Orang-orang saling tak mengenal, bahkan tangan yang dibalik pun tak kelihatan. Di langit, kilat saling menyambar, bunyi guntur menggema, halilintar dan angin ribut beriringan de-ngan api dewata. Hampir bersamaan diperintahkan untuk memulai upacara kerajaan.
Dalam suasana mencekam itu, di bahagian kaki Wé Nyiliq Timoq tiba-tiba saja tegak pelangi. Perut Wé Nyiliq Timoq kembali sakit. Bergegas Wé Nyiliq Timoq merebahkan tubuhnya di pangkuan ibu susu-nya. Menangis sambil berkata Wé Datu Tompoq:
“Matilah aku, inangda. Padam pulalah nyawaku. Sepertinya, kematianku tak lagi dapat disaksikan oleh orang tuaku dan saudara-saudaraku.”
Sungguh sedihnya hati Manurungngé men-dengar ucapan istrinya. Ia buru-buru berpaling seraya memegang lengan Wé Nyiliq Timoq. Suara-nya parau dan terisak-isak Manurungngé berkata: