La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (5) Bab 8
Setelah keluar, diikatlah dengan benang sutera tembuni bayi itu, lalu diletakkan pada gelang berhiaskan naga. Dengan pedang pusaka dari Rualletté, ari-ari tersebut dipotong. Di bawahnya dihamparkan kain sebagai tempat berbaring sang bayi. Wé Saung Langiq sendiri yang memasukkan tembuni itu ke dalam guci yang dipangku oleh bangsawan tinggi yang menjelma bersama Wé Nyiliq Timoq. Guci itu kemudian dinaungi dengan kain sutera berwarna biru, dipukul-pukul dengan adidi, dan ojeq keemasan. Guci itu kemudian dibuatkan peterana emas dan diletakkan di tiang pusat istana.
Setelah dibersihkan dan dibungkus dengan kain bersuji emas, Batara Guru pun bermain-main dengan bayi kesayangannya.
“Menangislah engkau bayi raja. Perdengarkan suaramu, agar penghuni bumi ini tahu bahwa engkau telah lahir di Alé Luwu. Engkau jualah nanti yang akan ditudungi payung di Alé Luwu, berkuasa di Watang Mpareq dan mewarisi keris La Ulaq Balu, pusaka dari Boting Langiq. Engkaulah sang penak-luk sekolong langit dan sepetala bumi.”
Maka terdengarlah suara yang melengking memecah langit. Gembira sekali hati Batara Guru mendengarkan tangis anaknya. Lalu dipukulkanlah genderang, yang beradu dengan bunyi tara, dan alémpang yang mendengung-dengung. Hampir bersamaan ratusan seruling keemasan ditiup. Talinroara keemasan juga tak ketinggalan digesek, berseliweran dengan suara ratusan gamaru ke-emasan digoncang-goncangkan. Tak dibiarkan lagi berhenti bunyi letusan senjata pemagar negeri.
Gembira sekali hati Manurungngé menerima kelahiran anaknya.
“Sebaiknya engkau Wé Lélé Ellung, bergegas untuk mandi berlangir, menghilangkan bau orang Senrijawa, membersihkan diri bak orang Léténg Nriuq. Hanyutkanlah keringat, dan daki yang melekat dan bermalam di badanmu. Begitu pula engkau Wé Jabiara, sebab kalianlah yang akan men-jaga tidurnya putra mahkota ini dan menyelengga-rakan upacara kekahyangannya.”
Tidak berapa lama berangkatlah keduanya, diiringi upacara dewata, dan dikelilingi upacara kedatuan. Usai mandi, Wé Appang Langiq datang mengenakan sarung, bersujikan merak dan naga, pada tubuh keduanya. Mereka lalu duduk me-ngeringkan diri di atas bangku, membersihkan air yang masih melekat di tubuhnya. Rambutnya yang panjang berurai, dihamparkan di atas talam dan diharumi dengan asap dupa kemenyan dari pedupaan.
Kepada Apung ri Toja, Wé Datu Tompoq, meminta untuk menyiapkan upacara kedatuan, memancangkan menrawé tempat lewatnya ibu susu bagi bayinya. Hanya sekejap selesailah semua perintah yang diberikan kepada Apung ri Toja.
Puang Matoa berangkat menjemput Wé Lélé Ellung dan Wé Jabiara yang dipersiapkan sebagai ibu susu dengan tari bissu. Wé Lélé Ellung dan Wé Jabiara pergi memenuhi tugasnya dengan berpakaian lengkap. Wé Appang Langiq yang memasangkan keduanya sarung bersuji merak dan naga. Wé Palaguna bertugas memakaikan gelang emas. Bissu Tellino menyematkan baju sutera, sebagai obat penolak bala terhadap orang Sunra, serta pengusir roh jahat Paddengngengngé dan Pérésolaé.
Dari Sao Piti, tempat tinggal keduanya, mereka melewati pancangan bambu berjanur dan telah pula direbahkan bambu emas untuk keduanya. Wé Lélé Ellung dan Wé Jabiara diangkut dengan usungan, dinaungi dengan payung gemerlap dari Limpo Bonga, dikelilingi ojeq yang berkilauan. Dipukulkan-pukulkan pula lidi keemasan sebagai pengusir roh jahat.
Di depan usungannya berjalan penari yang memakai dodoq dan tarian alosu sodda. Dibunyikanlah gendang La Wéwang Langiq, dan gendang emas manurung dari atas istana. Ditabuh pula gendang emas yang berada di bawah di pekarangan. Bunyi gong disertai musik Melayu meningkahi perjalanan Wé Lélé Ellung dan Wé Jabiara. La Kéni-Kéni dan, La Kabenniseng hampir bersamaan membunyikan serulingnya yang diiringi kecapi yang dimainkan La Tau Buleng dan tiupan terompet La Tau Pancéq. Arumpigi berbalut emas tak lupa pula diguncang-kan, diaduk bersama kegembiraan yang menye-limuti istana Luwu.