La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (11) Bab 1
“Apa sudah ada yang disiapkan untuk diturunkan dan tempatkan sebagai tunas di kolong langit?” tanya Guru ri Selleq seketika.
Mendengar pertanyaan saudaranya, Datu Palingéq menjawab agak ragu sembari mengalihkan pandangan ke arah suaminya seolah meminta pertimbangan:
“Bagaimana kalau Balalanriuq saja yang diantar turun ke bumi, mematangkan kayu sengkonang atas nama kita.”
Melihat pandangan perempuan belaian hatinya, Patotoqé hanya menggeleng lembut sembari menarik garis senyum di wajahnya.
“Bagaimana mungkin kita turunkan Balalanriuq Aji Pallureng ke bumi, bukankah ia telah kuserahi pusaka warisannya di Léténg Nriuq; mengadu petir, menyabung halilintar, menyalakan api dewata. Barangkali sebaiknya Aji Pawéwang saja yang kita antar turun ke bumi?”
Mendengar usulan suaminya, Datu Palingéq menggeleng.
“Mungkinkah kita turun ke bumi Aji Pawéwang. Bukankah ia telah kita serahi pusaka warisan di Langku-Langku. Bagaimana kalau Aji Tellino Dettia Tana saja yang di turun ke bumi?”
Orang-orang yang hadir pun belum juga memberikan komentar. Mereka hanya diam dan memperhatikan baik-baik uraian kedua penguasa Boting Langit tersebut.
“Bagaimana ia akan diturunkan, ditempatkan sebagai keturunan di kolong langit? Bukankah ia telah diserahi pusaka warisannya di Mallagenni, mengatur gunung besi yang dijelmakan di dunia,” sergah Datu Patotoq.
“Begini saja,” sambung Patotoqé, “apa tidak sebaiknya kita tempatkan saja I La Sangiang sebagai keturunan kita di kolong langit?”
Kalimatnya berhenti sejenak. Seperti berpikir keras, berusaha memilih kata-kata yang tepat.
“Apalagi...,” ujar Datu Patotoq berusaha memberikan alasan, “selama ini ia selalu menginginkan perang di Boting Langiq dan tak mampu menghargai sesamanya datu. Bahkan ia selalu merasa hanya dirinyalah yang dianggap anak dewata di Rualletté, tak ada duanya. Selain itu, pekerjaannya hanyalah menyabung ayam andalannya. Dan dia selalu berbuat curang. Kalau ayamnya mati, ia pun membunuh ayam sesamanya raja yang mengalahkannya agar seri.”
Alasan itu tidak disepakati pula oleh Datu Palingéq. Selain itu, I La Sangiang juga telah diserahi pusaka warisannya di Mallimongeng. Apalagi orang-orang yang hadir juga tidak sepakat untuk menurunkan I La Sangiang yang memiliki tabiat yang kurang baik.
“Untuk menjelmakan tunas di bumi memang harus hati-hati...,” potong Sinauq Toja memecah kebisuan sesaat.
“Kalau begitu, bagaimana kalau Aji Pattongeng Sangiang Kapang saja yang kita turunkan. Ia berkelakuan baik dan cerdas dalam berpikir. Orangnya pandai dan penuh kasih sayang. Ia tak pernah menampakkan kemarahannya, meski itu benar-benar sangat menyakitkan dirinya. Ia selalu dapat memahami kehendak semua pengikutnya. Selain itu, ia juga ahli dan fasih berbicara serta pandai bergaul, sehingga tak mempermalukan sesamanya bangsawan di Boting Langiq. Apalagi Aji Pattongeng juga sangat dermawan. Seratus kerbau yang dipanggang tiap hari untuk makan dan minum semua pengikutnya,” usul Datu Palingéq memotong ucapan Sinauq Toja sembari memandang ke arah suaminya.
Patotoqé untuk kesekian kalinya menggeleng. Aji Panotteq pun sudah diserahi pusaka warisannya di Limpo Bonga, untuk mengatur perbintangan dan mengamati kolong langit dan permukaan bumi.