La Galigo; Turunnya Manusia Pertama (2) Bab 4
Mendengar itu, gembira sekali Batara Guru. Namun tiba-tiba saja ia seperti disentak dan ditarik ke bumi. Terkejut... Batara Guru pun tersadar dan terbangun dari mimpi. Ia telah mengira dirinya berada di langit. Ternyata ia masih tetap berada di dunia. Dengan penuh kecewa, lelaki tampan itu terbangun dan duduk di tepi pembaringan. Termenung seraya menjalin jari tangannya, air mata pelan-pelan mengaliri permukaan wajahnya dan menetes di atas lantai.
Cukup lama Batara Guru termenung. Pikirannya mengembara berusaha memaknai mimpi yang baru saja menghiasi tidurnya. Ia tak henti-hentinya mereka-reka, hingga jenuh sendiri. Karena masih penasaran, ia bangkit dari pembaringan, membuka pintu bilik dan berjalan keluar seraya menyuruh memasang kilat, menyalakan lampu. Dipanggilnya pula Wé Saung Nriuq, Wé Lélé Ellung, dan Apung Talaga untuk segera menemuinya.
Berkata Manurungngé saat ketiganya telah berada di hadapannya:
“Apa gerangan yang akan terjadi terhadap diriku. Kehendak apa lagi yang ingin disampaikan To Palanroé kepadaku? Dalam mimpi, aku melihat diriku naik ke langit, singgah sejenak mandi di sungai di Limpo Majang, dan kemudian terus naik ke istana Sao Kuta Pareppaqé. Tatkala bertemu dengan kedua orang tua yang melahirkanku, Datu Patotoq memintaku supaya besok datang ke tepi pantai menjemput kirimanku. Tentu aku sangat gembira mendengarnya. Namun aku tak tahu apakah yang dimaksud dengan kiriman itu? Mungkinkah sepupu sekaliku yang akan dimunculkan ke bumi untuk menemaniku, atau...?”
Beberapa lama ketiganya terdiam. Ada rasa cemburu menggerayangi perasaan mereka. Namun ketiganya berusaha menepis rasa itu. Bagi mereka cinta, kasih sayang adalah segalanya dalam keluarga. Sepanjang itu tak berubah, maka itulah hakekat sebuah kebersamaan.
Menyadari kebisuan yang mendera, ketiganya berusaha membuyarkan. “Itulah yang disebut mimpi yang berwujud kenyataan. Sebaiknya kita tunggu saja fajar datang dan muncul di ufuk timur. Barulah kita pergi ke pinggir pantai melihat apa yang akan terjadi,” jawab Wé Saung Nriuq sedikit tergeragap yang diangguki Apung Talaga dan Wé Lélé Ellung.
Karena belum menemukan jawaban yang benar-benar pasti dan memuaskan hatinya, Batara Guru bertambah gelisah. Mata Manurungngé tidak lagi mau dipejamkan. Berbagai jawaban melintas kemudian terhempas oleh jawaban lain. Sungguh pun demikian, keyakinan bahwa sepupu sekalinya-lah yang akan muncul, dirasakannya akan menjadi kenyataan.
Setelah sedikit puas dengan kesimpulan sementara yang diambilnya, ia pun mencoba untuk tidur. Meski berat, akhirnya ia berhasil melawan kekacauan pikirannya dapat tertidur pulas, hingga pagi menjelang.
***
Di Alé Luwu, matahari menampakkan wajahnya dengan girangnya. Sinarnya yang hangat, meriang-kan pula dedauan dan burung-burung yang berlom-patan dari satu dahan ke dahan yang lain. Pagi itu, hampir serentak segenap penghuni istana kilat keemasan terjaga.
Usai membersihkan tubuh dan menyirih, Batara Guru telah siap-siap berangkat ke pantai menunggu kiriman yang akan datang kepadanya. Meme-rintahlah Wé Lélé Ellung untuk segera menghimpun semua penguasa daerah taklukan Luwu dan sekitar Ware. Wé Saung Nriuq juga menyuruh untuk secepatnya mempersiapkan usungan kemilau Manurungngé.
Sekejap mata saja semua perintah Wé Lélé Ellung dilaksanakan. Para anak dewata telah berkumpul. Mereka duduk sambil menunggu di pekarangan. Usungan berhias emas yang dijadikan tumpangan Manurungngé juga telah siap untuk mengantar penguasa Alé Luwu itu. Telah siap pula usungan keemasan tumpangan Wé Saung Nriuq, Wé Lélé Ellung, dan Apung Talaga. Adapun payung kebe-saran manurung bertahtakan emas berkilauan juga telah dikembangkan.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya telah siap, memerintahlah Wé Saung Nriuq untuk segera berangkat. Maka bergeraklah usungan Manurung-ngé, dinaungi payung indah dari Léténg Nriuq, diiringi oleh ratusan dayang-dayang dan para juak. Di kiri kanannya usungan Wé Saung Nriuq, Wé Lélé Ellung, dan Apung Talaga yang masing-masing dinaungi payung kilat, serta para anak dewata, mengiringi.
Hampir bersamaan dibunyikanlah gendang petir manurung dan gong kilat yang ratusan jumlahnya. Bergemuruh pula bunyi-bunyian dari berbagai peralatan adat upacara kebesaran Manurungngé. Rombongan tersebut bergerak perlahan menuju pinggir pantai.